Orang bijak banyak yang bilang bahwa cobaan adalah Kasih Sayang Allah, dan saya pun menganggap demikian. Banyak contoh yang mendukung hal itu, tapi terkadang yang menjalaninya akan terasa berat dan tidak kadang pula kita terjebak dalam kesedihan yang berkelanjutan.
Semua kita berharap semua cobaan yang menimpa semua diantara kita bisa dihadapi dan disikapi sebagai kasih sayang Allah, yang nantinya akan diganti dengan kenikmatan yang lain, yang lebih besar, Amiin.
Saya jadi inget filosofi yang pernah saya perbincangkan dengan salah satu teman, filosofi pemandangan sungai di desa. Kami, waktu itu sempat satu pesawat ke sebuah kota di di kepulauan sulawesi, naik pesawat foker yang terbang tingginya hanya beberapa meter diatas pohon kelapa. Keunikan lain dari pesawat itu adalah ada asbak rokok di setiap kursinya, dan asbak itu berisi puntung ketika kami naik. Sudah dapat dipastikan, gak ada tempat duduk yang diatur, jika ingin mendapatkan tempat yang enak, Anda sedikit memerlukan otot untuk berlomba. Untung waktu itu kami ditemani orang pribumi sebagai pengatur perjalanan.
Raungan mesin baling-baling di kedua sisi cukup memekakan telinga, tapi lumayan terobati dengan keindahan alam disana, bukit-bukit dan pepohonan kelapa yang berjejer diselingi sabana yang ditumbuhi rumput-rumput liar, dan aliran sungai yang berliku-liku membuat kami takjub dengan ciptaan sang Maha Pencipta.
Dari sekian banyak pemandangan yang menyentuh, salah satu yang kami komentari adalah indahnya liukan-liukan sungai yang mengalirkan air dari hulu yang berada di gunung ke hilir yang bermuara di lautan. Ya, memamg indah, tapi si pendamping kami bercerita bahwa sungai-sungai di daerah sana banyak binatang buas yang siap memangsa. Saya jadi membayangkan kalau saja saya berada disungai itu dan bertemu dengan para penguasa sungai si binatangbuas tersebut, tentu saya akan merasakan hal yang berbeda.
Cerita diatas tidak ada bedanya dengan hidup kita, jika kita memandang keseluruhan hidup sebagai sungai yang indah yang kami lihat dari atas pesawat tadi, dengan mengesampingkan fasilitas pesawat foker tersebut tentunya, maka kita akan melihat sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita. Saya ambil contoh diri saya, dari kecil di besarkan di kapung yang melihat mobil saja merupakan kedahsyatan yang sangat, sampai bisa bersekolah di poltek, dan sampai sekarang bisa berkantor di pusat ibu kota jakarta, tentu ini merupakan hidup yang indah. Tapi, jika saya berada di suatu titik dimana saya dirundung masalah, atau dalam filosofi diatas saya sedang berhadapan dengan binatang buas, tentu saya tidak bisa melihat keindahan ini, yang saya fikirkan adalah masalah yang sedang dihadapi.