Barjalan Dalam Angan Yang Mengambang

Ketika mulut terkunci untuk bersama hati menampilkan kesempurnaan, angan berjalan menembus batas mampu. Mulut hanya bisa diam merengkuh hening, berjalan dengan tatapan kosong kedepan.

Menutup semua jalan dibelakang, tak ada kompromi, kepastian alami.

Aku harap tanah berjalan dengan seksama, mengikuti hati dalam naungan Ilahi. Tapi tidak melihat mereka, yang kudengar hanya raung.

Aku tidak niat untuk lari, berjalan dalam kilatan cahaya yang kadang menyilaukan, bahkan membutakanku.

Tapi aku sadar semuanya akan kembali.

Ditulis dalam Prosa. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.