Barjalan Dalam Angan Yang Mengambang

Ketika mulut terkunci untuk bersama hati menampilkan kesempurnaan, angan berjalan menembus batas mampu. Mulut hanya bisa diam merengkuh hening, berjalan dengan tatapan kosong kedepan.

Menutup semua jalan dibelakang, tak ada kompromi, kepastian alami.

Aku harap tanah berjalan dengan seksama, mengikuti hati dalam naungan Ilahi. Tapi tidak melihat mereka, yang kudengar hanya raung.

Aku tidak niat untuk lari, berjalan dalam kilatan cahaya yang kadang menyilaukan, bahkan membutakanku.

Tapi aku sadar semuanya akan kembali.

Ditulis dalam Prosa. Leave a Comment »

Aku, Dia dan Jam Tangan Perpisahan

Detak jam dinding dibelakangku seakan berbicara dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar, tapi bisa aku mengerti maksudnya. Seakan berkata bahwa hari ini adalah hari yang tidak semestinya aku sesali walaupun akan kehilangan sesuatu di tempat kerja ini. Secara tidak sadar beberapa kali aku lihat, jam itu terus berjalan dan perasaan samar itu mengambang seperti awan yang tertiup angin di angkasa. Tidak aku perjelas perasaan itu, aku biarkan dia tersamar.

Bagi kesadaranku hanya kubilang; bahwa hari ini adalah hari perpisahan ditempat ini, itu saja!

Aku hanya mengenalnya beberapa tahun, dan bukan mengenal secara khusus, hanya mengenal sebagai teman. Tapi aku tahu, teman ini bukan teman yang biasa, tapi teman yang memancar dari keikhlasan hati yang sudah menjadi kudrat baginya.

Sedangkan aku, teman yang sampai waktu sekarang hanya memiliki sedikit teman. Kebanyakan orang yang datang dalam hidupku hanya mampir, mengucapkan salam, bercengkrama dan pergi. Bukan salah mereka, bukan salahku juga!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Prosa. Tag: . Leave a Comment »