Ayah Pulang

Malam mulai merambat mendekap kota Jakarta, menebar kegelapan, menutupi segala gairah manusia yang menyebar sejak pagi buta, berlalu-lalang di penjuru Ibu Kota.

Tapi, manusia itu terlalu angkuh untuk tunduk kepada gelapnya malam, mereka berlomba dengan waktu untuk memenuhi hasrat yang selalu muncul, bagaikan buih dari deburan ombak. Mereka bersekutu dengan lampu untuk menggantikan sang mentari yang selalu tunduk pada sang Maha Pengatur. 

Mereka membuat kegaduhan seakan malam tidak pernah melalui dirinya, berpura-pura ketika badannya ingin tunduk dan ikut sang malam. Mengaso seiring dengan eratnya rengkuhan malam.

Sebagian dari mereka menikmati keadaan itu, entah karena harus atau terbiasa.

Sebagian dari mereka tersiksa dan ingin kembali bercengkrama dengan sang malam sesuai dengan kodratnya, menikmati halusnya keheningan yang merambat menentramkan jiwa, berbaring untuk membiarkan seluruh organ tubuh menikmati masa-masa berharganya.

Sebagian dari mereka telah berhasil mengalahkan sang penguasa keinginan itu, bercengkrama dengan syahdunya malam dan tinggal dalam surga di bawah atap rumahnya, berpelukan dengan anak yang selalu di cintainya, didampingi sang istri, seakan bidadari baginya. Bercengkrama sambil dipeluk erat sang malam, dalam hening dan damai.

Orang-orang bekepala batu.

Mungkin bagi sebagian orang akan merasa ganjil jika berada di dunia ini, dunia dimana semua orang mempunyai kepala batu, Ya.. kepala yang terbuat dari batu. Aku menyangka kepala batu adalah hal khiasan yang dibuat oleh para orang tuaku dulu untuk orang yang susah dikasih tahu orang lain. Sekarang, setelah pernah masuk di dunia ini, aku jadi tahu. Mungkin para orang tuaku dulu pernah berada disini juga, ketika mereka kembali bersamaku, mereka mengatakan kepala batu ini yang masih aku anggap istilah sampai beberapa saat yang lalu.

Di sana, setiap orang sudah terbiasa dengan hal ini, sehingga mereka tidak mempunyai perasaan yang aneh. Mereka berprilaku yang sama, sama persis dengan perkataan orang tuaku dulu, jika orang lain melarang dia untuk melakukan sesuatu, atau memberitahu bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang tidak baik, maka mereka dengan serta merta tidak mengindahkannya, paling-paling hanya senyum-senyum dan masih melakukan hal itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Writing. Leave a Comment »

Driving Safety Distance Disorder

Dalam beberapa bulan terakhir sering aku dengar tentang OCD (Obsessive-compulsive disorder) yaitu penyakit secara psychiatric yang mempunyai obsesi sangat kuat terhadap sesuatu, sehingga dia mengalami gangguan hidup yang tidak semestinya. Bahkan setidaknya ada dua film yang tokoh utamanya mempunyai penyakit tersebut, katakanlah Prison Break dan Monk.

Film-film tersebut jadi menarik karena ternyata penyakit tersebut bukan hanya berdampak negatif bagi penderitanya, tapi justru sebaliknya. Mr. Monk (Adrian Monk) dalam serial Monk mempunyai kelebihan untuk bisa melihat lingkungan dengan jelas, sehingga berbagai kasus kriminal dia bisa selesaikan dengan cerdas. Scoffield dalam Prison Break, bisa mengeluarkan beberapa napi dari penjara yang dijaga ketat, semuanya dia rencanakan sendiri.

Tapi dalam cerita hidupku aku menumukan disorder yang lain, dan saya sebut Driving Safety Distance Disorder. Disorder ini merupakan disorder yang diderita oleh salah seorang sopir omprengan yang setiap pagi aku selalu gunakan untuk berangkat ke kantor. Tapi untungnya sopir yang seperti ini hanya ada satu dari sekian banyak supir omprengan tersebut.

Disorder yang diderita sopir ini cukup unik, yaitu dia mempunyai kebiasaan nyalib mobil dengan jarak yang sangat menghawatirka, dalam bahasa lugasnya sering saya sebut nempel. Bukan hanya sekali atau dua kali, hal ini sering dia lakukan. Bahkan pernah satu saat, mobil yang di kendarainya beradu dengan truk yang dia salib dari sebelah kiri dan menyebabkan “sedikit” benturan antara belakang mobil suzuki carry merah-nya yang berplat nomor B 2300 ?? dengan truk yang dia salib. Keadaan paling naas adalah saya persis ada di bagian yang terbentur itu.

Yang paling mengkhawatirkan adalah dia tidak merasa hal itu sebagai susuatu yang tidak seharusnya, dia sangat tenang melakukannya. Mengambil jalur bahu jalan yang sempit diselingi dengan menabrak rubber con pembatas jalan dia lakukan dengan senyum dan muka bangga.

Mudah-mudahan dia cepat sembuh dari penyakitnya ini, atau ada mahasiswa bagian psikologi yang melakukan riset tentang penyakit ini dan setelah jadi psikolog, mahasiswa tersebut bisa memberikan obatnya untuk diminumnya supaya sembuh.

Ditulis dalam Writing. Leave a Comment »

Selamat Bergabung

Mungkin kata “selamat bergabung” harusnya di sampaikan oleh tuan rumah atau orang yang lebih duluan ada di tempat. Berhubung di tempat ini WordPress.com adalah tempat dimana orang yang masuk dan keluar tidak diketahui/bukan berarti tidak diperdulikan oleh yang lain, maka jangan anggap tempat ini tempat yang tidak ramah. Inilah yang orang sebut “dunia maya”/”dunia semu” lawannya “dunia nyata”. Disini hanya bit-bit electron yang bergerak kesana-kemari dalam medianya di seluruh dunia, bahkan sampai ke luar angkasa. Disini hanya keinginan dan tingkah laku setiap orang yang berjalan, otak mereka merambat melalui bit-bit itu. Dibatasi hanya dengan keadaan atau ketersediaan fasilitas yang telah tersedia, itu untuk sebagian orang yang hanya sebagai pengguna. Sedang untuk orang yang mempunyai daya kreatifitas dan kemampuan teknologi cukup tinggi, mereka bisa melakukan apa saja pada ambang batas kreatifitasnya. Dunia maya menciptakan tatanan baru dalam kehidupan manusia. Disini belum ada agama, kepercayaan, sekte atau apapun yang membedakan atribut manusia. Disini semua hanya ada satu yang dinamakan bit dengan satu kondisi (hidup, nyala, 1) dan satu tidak berkondisi (mati, padam, 0).

Selamat bergabung…

Ditulis dalam Writing. Leave a Comment »