Orang-orang bekepala batu.

Mungkin bagi sebagian orang akan merasa ganjil jika berada di dunia ini, dunia dimana semua orang mempunyai kepala batu, Ya.. kepala yang terbuat dari batu. Aku menyangka kepala batu adalah hal khiasan yang dibuat oleh para orang tuaku dulu untuk orang yang susah dikasih tahu orang lain. Sekarang, setelah pernah masuk di dunia ini, aku jadi tahu. Mungkin para orang tuaku dulu pernah berada disini juga, ketika mereka kembali bersamaku, mereka mengatakan kepala batu ini yang masih aku anggap istilah sampai beberapa saat yang lalu.

Di sana, setiap orang sudah terbiasa dengan hal ini, sehingga mereka tidak mempunyai perasaan yang aneh. Mereka berprilaku yang sama, sama persis dengan perkataan orang tuaku dulu, jika orang lain melarang dia untuk melakukan sesuatu, atau memberitahu bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang tidak baik, maka mereka dengan serta merta tidak mengindahkannya, paling-paling hanya senyum-senyum dan masih melakukan hal itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Writing. Leave a Comment »

Aku, Dia dan Jam Tangan Perpisahan

Detak jam dinding dibelakangku seakan berbicara dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar, tapi bisa aku mengerti maksudnya. Seakan berkata bahwa hari ini adalah hari yang tidak semestinya aku sesali walaupun akan kehilangan sesuatu di tempat kerja ini. Secara tidak sadar beberapa kali aku lihat, jam itu terus berjalan dan perasaan samar itu mengambang seperti awan yang tertiup angin di angkasa. Tidak aku perjelas perasaan itu, aku biarkan dia tersamar.

Bagi kesadaranku hanya kubilang; bahwa hari ini adalah hari perpisahan ditempat ini, itu saja!

Aku hanya mengenalnya beberapa tahun, dan bukan mengenal secara khusus, hanya mengenal sebagai teman. Tapi aku tahu, teman ini bukan teman yang biasa, tapi teman yang memancar dari keikhlasan hati yang sudah menjadi kudrat baginya.

Sedangkan aku, teman yang sampai waktu sekarang hanya memiliki sedikit teman. Kebanyakan orang yang datang dalam hidupku hanya mampir, mengucapkan salam, bercengkrama dan pergi. Bukan salah mereka, bukan salahku juga!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Prosa. Tag: . Leave a Comment »

It’s a long time

Ya… udah lama gak nge-blog!

Kesel sebenernya, waktu terbuang! tidak nge-blog disini dan tidak nge-blog disana juga. Bukannya tidak ingin menulis, kalau dilihat di folder draft udah ada enam tulisan yang belum di publish, atau bahkan cuman hanya judul. Belum lagi di blog yang lainnya, sudah ada beberapa draft juga.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam My Self. Leave a Comment »

Back from Outbound

On the busKata outbound sebenarnya tidak mewakili kegiatan kantor kemarin, workshop mungkin lebih tepat. Sehari semalem diawali dan diakhiri dengan rapat yang semuanya berhubungan dengan kerja, hanya saja acara makan malam yang disertai dengan life-music membuat setiap orang – walaupun tidak semua orang – memunculkan kegilaan yang sudah lama aku kenal. Setidaknya dua album dinyanyikan mereka, dan puluhan lagu lain oleh artist yang sengaja dipanggil pihak Lido Lake.

Mr. MabokKegilaan dimaksud adalah gerakan-gerakan gak jelas -dansa bukan, menari bukan, apalagi hasil kreografi, atau pun atas hasil pilosofi tertentu, bukan sama sekali- waktu mengiringi musik. Bukan di lantai dansa yang dipersiapkan sedemikian rupa tapi di depan panggung si penyanyi. Ya.. kegilaan setahun sekali masih tetap dipertahankan ternyata, hanya ada kebiasaan gila yang hilang pada tahun ini, yaitu minum-munuman keras! Syukurlah.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam My Self. Leave a Comment »

Driving Safety Distance Disorder

Dalam beberapa bulan terakhir sering aku dengar tentang OCD (Obsessive-compulsive disorder) yaitu penyakit secara psychiatric yang mempunyai obsesi sangat kuat terhadap sesuatu, sehingga dia mengalami gangguan hidup yang tidak semestinya. Bahkan setidaknya ada dua film yang tokoh utamanya mempunyai penyakit tersebut, katakanlah Prison Break dan Monk.

Film-film tersebut jadi menarik karena ternyata penyakit tersebut bukan hanya berdampak negatif bagi penderitanya, tapi justru sebaliknya. Mr. Monk (Adrian Monk) dalam serial Monk mempunyai kelebihan untuk bisa melihat lingkungan dengan jelas, sehingga berbagai kasus kriminal dia bisa selesaikan dengan cerdas. Scoffield dalam Prison Break, bisa mengeluarkan beberapa napi dari penjara yang dijaga ketat, semuanya dia rencanakan sendiri.

Tapi dalam cerita hidupku aku menumukan disorder yang lain, dan saya sebut Driving Safety Distance Disorder. Disorder ini merupakan disorder yang diderita oleh salah seorang sopir omprengan yang setiap pagi aku selalu gunakan untuk berangkat ke kantor. Tapi untungnya sopir yang seperti ini hanya ada satu dari sekian banyak supir omprengan tersebut.

Disorder yang diderita sopir ini cukup unik, yaitu dia mempunyai kebiasaan nyalib mobil dengan jarak yang sangat menghawatirka, dalam bahasa lugasnya sering saya sebut nempel. Bukan hanya sekali atau dua kali, hal ini sering dia lakukan. Bahkan pernah satu saat, mobil yang di kendarainya beradu dengan truk yang dia salib dari sebelah kiri dan menyebabkan “sedikit” benturan antara belakang mobil suzuki carry merah-nya yang berplat nomor B 2300 ?? dengan truk yang dia salib. Keadaan paling naas adalah saya persis ada di bagian yang terbentur itu.

Yang paling mengkhawatirkan adalah dia tidak merasa hal itu sebagai susuatu yang tidak seharusnya, dia sangat tenang melakukannya. Mengambil jalur bahu jalan yang sempit diselingi dengan menabrak rubber con pembatas jalan dia lakukan dengan senyum dan muka bangga.

Mudah-mudahan dia cepat sembuh dari penyakitnya ini, atau ada mahasiswa bagian psikologi yang melakukan riset tentang penyakit ini dan setelah jadi psikolog, mahasiswa tersebut bisa memberikan obatnya untuk diminumnya supaya sembuh.

Ditulis dalam Writing. Leave a Comment »