Maap Saya Cuekin

Kasian juga dia, sejak desember 2007 cuman di colek dan udah, kencan-kencan selama dua bulan, gitu juga cuman tujuh kali ketemu, dan ditinggalin lagi. Baru bulan desember kemarin bertemu lagi sampai sekarang, ketumunya juga bisa dihitung dengan jari.

Tapi segimana dicuekinpun dia masih tetap setia menunggu. Ketika pintunya kembali diketuk dan melihat wajahku, pintunya  kembali dibuka lebar-lebar. Setelah didalampun dia gak ragu-ragu untuk menyediakan beberapa kebutuhan yang saya perlukan. Tapi sayang setiap ada keinginan yang lebih dia selalu melarangnya dan meminta bayaran, Ah dari dulu memang begitu, makanya saya tidak setia padanya.

Akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang lebih private, memang harus bayar pertamanya, tapi gak terlalu mahal kok. Untuk daftar biasanya dibayar tahunan dan untuk bisa berkunjung ke tempatnya kita harus membayar bulanan, harganya dari ribuan sampai ratusan ribu. Tapi kita bisa melakukan apapun asal ngikutin aturan. Dan kita bisa memilih nama sesuka kita, asalkan belum diambil sama orang.

Jangan salahkan saya kalau saya pindah ke tempat lain untuk nulis blog ini. Abis kalau di wordpress mau ganti warna tampilan pun harus bayar, apalagi kalau install plugin, harus berapa uang yang saya keluarkan untuk nge-blog.

Ya sudah, akhirnya blog ini mau saya pindahkan ke hasanuidn.name. Selain buat sendiri, istri juga mau mulai nge-blog katanya. Dan, saya bisa “ngapain” aja kalo punya sendiri, resmi dan teratur.

Iklan

Ayah Pulang

Malam mulai merambat mendekap kota Jakarta, menebar kegelapan, menutupi segala gairah manusia yang menyebar sejak pagi buta, berlalu-lalang di penjuru Ibu Kota.

Tapi, manusia itu terlalu angkuh untuk tunduk kepada gelapnya malam, mereka berlomba dengan waktu untuk memenuhi hasrat yang selalu muncul, bagaikan buih dari deburan ombak. Mereka bersekutu dengan lampu untuk menggantikan sang mentari yang selalu tunduk pada sang Maha Pengatur. 

Mereka membuat kegaduhan seakan malam tidak pernah melalui dirinya, berpura-pura ketika badannya ingin tunduk dan ikut sang malam. Mengaso seiring dengan eratnya rengkuhan malam.

Sebagian dari mereka menikmati keadaan itu, entah karena harus atau terbiasa.

Sebagian dari mereka tersiksa dan ingin kembali bercengkrama dengan sang malam sesuai dengan kodratnya, menikmati halusnya keheningan yang merambat menentramkan jiwa, berbaring untuk membiarkan seluruh organ tubuh menikmati masa-masa berharganya.

Sebagian dari mereka telah berhasil mengalahkan sang penguasa keinginan itu, bercengkrama dengan syahdunya malam dan tinggal dalam surga di bawah atap rumahnya, berpelukan dengan anak yang selalu di cintainya, didampingi sang istri, seakan bidadari baginya. Bercengkrama sambil dipeluk erat sang malam, dalam hening dan damai.

Barjalan Dalam Angan Yang Mengambang

Ketika mulut terkunci untuk bersama hati menampilkan kesempurnaan, angan berjalan menembus batas mampu. Mulut hanya bisa diam merengkuh hening, berjalan dengan tatapan kosong kedepan.

Menutup semua jalan dibelakang, tak ada kompromi, kepastian alami.

Aku harap tanah berjalan dengan seksama, mengikuti hati dalam naungan Ilahi. Tapi tidak melihat mereka, yang kudengar hanya raung.

Aku tidak niat untuk lari, berjalan dalam kilatan cahaya yang kadang menyilaukan, bahkan membutakanku.

Tapi aku sadar semuanya akan kembali.

Ditulis dalam Prosa. Leave a Comment »

Pemandangan Sungai di Desa

Orang bijak banyak yang bilang bahwa cobaan adalah Kasih Sayang Allah, dan saya pun menganggap demikian. Banyak contoh yang mendukung hal itu, tapi terkadang yang menjalaninya akan terasa berat dan tidak kadang pula kita terjebak dalam kesedihan yang berkelanjutan.

Semua kita berharap semua cobaan yang menimpa semua diantara kita bisa dihadapi dan disikapi sebagai kasih sayang Allah, yang nantinya akan diganti dengan kenikmatan yang lain, yang lebih besar, Amiin.

Saya jadi inget filosofi yang pernah saya perbincangkan dengan salah satu teman, filosofi pemandangan sungai di desa. Kami, waktu itu sempat satu pesawat ke sebuah kota di di kepulauan sulawesi, naik pesawat foker yang terbang tingginya hanya beberapa meter diatas pohon kelapa. Keunikan lain dari pesawat itu adalah ada asbak rokok di setiap kursinya, dan asbak itu berisi puntung ketika kami naik. Sudah dapat dipastikan, gak ada tempat duduk yang diatur, jika ingin mendapatkan tempat yang enak, Anda sedikit memerlukan otot untuk berlomba. Untung waktu itu kami ditemani orang pribumi sebagai pengatur perjalanan.

Baca entri selengkapnya »

Ketika Keinginan Bertemu dengan Waktu

Semua manusia pasti mempunyai keinginan tanpa memandang bisa terlaksana atau tidak. Mereka berdatangan tanpa mengenal waktu, tidak bisa diprediksi apalagi di rencanakan.

Keinginan layaknya angin bertiup, dia bisa mengalir begitu saja. Adakalanya juga keinginan tersebut berjalan perlahan dan adakalanya dia mengamuk bagaikan angin topan. Bagi orang-orang yang tidak bisa menahannya, mereka akan terperosak pada dunia penjajahan dalam hidupnya.

Seorang yang tidak mempunyai apa-apa rela mempertaruhkan semuanya, bahkan nyawanya sendiri untuk keinginannya. Dan orang yang telah mempunyai apapun sanggup menaruhkan semuanya untuk sang keinginan.

Baca entri selengkapnya »

Orang-orang bekepala batu.

Mungkin bagi sebagian orang akan merasa ganjil jika berada di dunia ini, dunia dimana semua orang mempunyai kepala batu, Ya.. kepala yang terbuat dari batu. Aku menyangka kepala batu adalah hal khiasan yang dibuat oleh para orang tuaku dulu untuk orang yang susah dikasih tahu orang lain. Sekarang, setelah pernah masuk di dunia ini, aku jadi tahu. Mungkin para orang tuaku dulu pernah berada disini juga, ketika mereka kembali bersamaku, mereka mengatakan kepala batu ini yang masih aku anggap istilah sampai beberapa saat yang lalu.

Di sana, setiap orang sudah terbiasa dengan hal ini, sehingga mereka tidak mempunyai perasaan yang aneh. Mereka berprilaku yang sama, sama persis dengan perkataan orang tuaku dulu, jika orang lain melarang dia untuk melakukan sesuatu, atau memberitahu bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang tidak baik, maka mereka dengan serta merta tidak mengindahkannya, paling-paling hanya senyum-senyum dan masih melakukan hal itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Writing. Leave a Comment »

Aku, Dia dan Jam Tangan Perpisahan

Detak jam dinding dibelakangku seakan berbicara dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar, tapi bisa aku mengerti maksudnya. Seakan berkata bahwa hari ini adalah hari yang tidak semestinya aku sesali walaupun akan kehilangan sesuatu di tempat kerja ini. Secara tidak sadar beberapa kali aku lihat, jam itu terus berjalan dan perasaan samar itu mengambang seperti awan yang tertiup angin di angkasa. Tidak aku perjelas perasaan itu, aku biarkan dia tersamar.

Bagi kesadaranku hanya kubilang; bahwa hari ini adalah hari perpisahan ditempat ini, itu saja!

Aku hanya mengenalnya beberapa tahun, dan bukan mengenal secara khusus, hanya mengenal sebagai teman. Tapi aku tahu, teman ini bukan teman yang biasa, tapi teman yang memancar dari keikhlasan hati yang sudah menjadi kudrat baginya.

Sedangkan aku, teman yang sampai waktu sekarang hanya memiliki sedikit teman. Kebanyakan orang yang datang dalam hidupku hanya mampir, mengucapkan salam, bercengkrama dan pergi. Bukan salah mereka, bukan salahku juga!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Prosa. Tag: . Leave a Comment »